Abepura, INFO_PAS – Pada Jumat (27/09/2024), suasana di Masjid At-Tarbiyah Lapas Abepura terasa khidmat dan penuh semangat. Momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang mengusung tema “Pesan Damai Rasulullah Menguatkan Karakter Nusantara Baru Indonesia Maju” menjadi kesempatan istimewa bagi seluruh warga binaan, petugas, dan pengurus masjid untuk mengenang kelahiran Sang Nabi Pembawa Rahmat. Meskipun perayaan Maulid ini dilakukan dua minggu setelah tanggal sebenarnya, semangat cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW tak sedikit pun berkurang.
Acara Maulid ini dimulai setelah pelaksanaan Sholat Jumat berjamaah, di mana seluruh jamaah Masjid At-Tarbiyah termasuk 117 warga binaan ikut serta dengan penuh rasa khusyuk. Masjid At-Tarbiyah sendiri memiliki peran penting dalam membina spiritual warga binaan Lapas Abepura, sehingga peringatan hari besar Islam ini menjadi momentum yang sangat dinantikan.
Dalam kegiatan tersebut, turut hadir Kepala Lapas Kelas IIA Abepura, Badarudin, beserta seluruh jajaran petugas Lapas yang juga aktif sebagai pengurus masjid. Hadir pula Ustadz Burhan Abdullah Al-Mahmudiy, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (NU) Provinsi Papua, yang memberikan tausiyah sebagai pengingat akan nilai-nilai luhur yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Ustadz Burhan juga berperan sebagai penyuluh agama Islam di Kementerian Agama Kota Jayapura, yang rutin memberikan pembinaan spiritual di Lapas Abepura.
Dalam sambutannya, Kalapas Kelas IIA Abepura, Badarudin, menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga keimanan dan rasa syukur dalam menjalani kehidupan, baik di dalam maupun di luar Lapas. Ia menekankan bahwa rezeki dari Allah SWT tidak selalu berupa harta benda, tetapi juga kesehatan, ketenangan hati, serta kesempatan untuk terus beribadah.
“Rezeki bukan hanya soal materi atau harta, tetapi lebih kepada bagaimana kita bisa terus menjaga keimanan dan ketakwaan. Di mana pun kita berada, baik dalam keadaan senang maupun susah, kita harus selalu ingat kepada Allah. Kebahagiaan sejati bukanlah yang tampak di mata manusia, tapi yang diberikan oleh Allah SWT,” ucap Badarudin di depan para warga binaan.
Badarudin juga menyoroti pentingnya refleksi diri, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Ia mengajak seluruh hadirin untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah, khususnya dalam menghadapi kesulitan.
“Terkadang kita merasa keadaan kita buruk, tapi bisa jadi itulah yang terbaik menurut Allah. Kita hanya perlu bersabar dan bersyukur atas setiap nikmat yang diberikan,” tambahnya.
Selain itu, ia juga menekankan bahwa kedekatan dengan Allah harus diwujudkan melalui rasa syukur yang mendalam dan amal ibadah yang tulus, sehingga kehidupan menjadi lebih bermakna.
“Mari kita jaga keamanan dan ketertiban di Lapas ini dengan menumbuhkan rasa keimanan yang kuat, karena dengan iman, kita akan selalu berada di jalan yang benar,” pungkasnya.
Setelah sambutan Kalapas, acara dilanjutkan dengan tausiyah yang dipimpin oleh Ustadz Burhan Abdullah Al-Mahmudiy. Dalam ceramahnya, Ustadz Burhan mengangkat kisah Nabi Yusuf AS sebagai contoh ketabahan dan keikhlasan dalam menghadapi cobaan hidup. Ia mengajak seluruh warga binaan untuk selalu memaafkan, baik kepada diri sendiri maupun orang lain.
“Orang yang sesungguhnya terpenjara bukanlah mereka yang berada di dalam tembok Lapas, melainkan mereka yang masih menyimpan dendam dan amarah. Perdamaian dimulai dari hati, dan dengan memaafkan diri sendiri serta orang lain, kita bisa menemukan ketenangan,” ujar Ustadz Burhan dengan penuh hikmah.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa berbuat baik kepada sesama, termasuk kepada mereka yang pernah berbuat salah, merupakan ajaran mulia dari Rasulullah SAW.
“Rasulullah mengajarkan kita untuk membalas keburukan dengan kebaikan, karena setiap kebaikan yang kita lakukan, Allah yang akan membalasnya. Kita tidak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan,” tambahnya.
Tema yang diusung dalam Maulid kali ini, “Pesan Damai Rasulullah Menguatkan Karakter Nusantara Baru Indonesia Maju”, menjadi sangat relevan dalam situasi yang dihadapi warga binaan. Ustadz Burhan mengingatkan bahwa kedamaian yang diajarkan Rasulullah harus dimulai dari diri sendiri. Ketika seseorang mampu berdamai dengan hatinya, maka ia akan mampu menghadapi segala cobaan dengan kepala tegak dan hati yang tenang.
“Pesan damai yang dibawa Rasulullah adalah untuk memperkuat karakter kita sebagai bangsa yang besar, bangsa yang penuh keragaman. Kita bisa memulai dengan memperbaiki diri, memaafkan, dan selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Inilah karakter yang harus kita tanamkan dalam Nusantara Baru yang maju dan sejahtera,” tegas Ustadz Burhan di akhir tausiyahnya.
Acara ditutup dengan doa bersama, yang dipimpin oleh Ustadz Burhan, memohon keberkahan dan keselamatan bagi seluruh jamaah, baik warga binaan maupun petugas Lapas Abepura. Simbol telur yang telah didoakan juga dibagikan kepada seluruh jamaah sebagai lambang kesuburan dan harapan akan keberkahan hidup di hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Dalam acara ini, sebanyak 117 warga binaan Masjid At-Tarbiyah Lapas Abepura ikut serta. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga sebagai sarana untuk memperdalam makna kehidupan melalui ajaran Rasulullah SAW, dengan harapan agar para warga binaan mampu menjadi pribadi yang lebih baik dan siap kembali ke masyarakat dengan membawa pesan damai dan kebaikan.
Dok/Foto : Humas)
Kontributor : tim Humas Lapas Abepura
Kementerian Hukum dan HAM RI
Ditjen Pemasyarakatan
HUMAS Kemenkumham PAPUA
@pengikut
@sorotan
















